pNdidiKan,,

November 9, 2008 at 1:57 pm (vIsit mY hEroic ciTy)

uNair,,

itS,,

Sejarah

Pendirian Fakultas Teknologi Informasi di ITS dilakukan sebagai respon terhadap kebutuhan untuk meningkatkan kualitas dan distribusi institusi pendidikan TI di Indonesia. Selain itu, pendirian Fakultas Teknologi Informasi di ITS khususnya ditujukan untuk meningkatkan jumlah institusi pendidikan TI di kawasan Indonesia bagian Timur. Peningkatan kualitas SDM di Fakultas Teknologi Informasi ini akan dilakukan melalui peningkatan staf akademik untuk:
melanjutkan studi mereka dalam berbagai disiplin keilmuan yang terkait dengan TI,
melakukan riset dan pengembangan dalam bidang TI,
serta peningkatan proses belajar-mengajar dan infrastruktur TI.

FTIF-ITS didirikan berdasarkan Surat Keputusan Rektor ITS Nomor 1155.1/K03/PP/2001, Tanggal 14 Juni 2001. Pada awalnya, FTIF-ITS terdiri dari dua jurusan/program studi, yaitu Jurusan Teknik Informatika (telah didirikan sejak tahun 1985) dan Program Studi Sistem Informasi (program studi baru yang didirkan sejak awal tahun akdemik 2001/2002) berdasarkan surat Dirjen DIKTI No. 2825/D/T/2001, tanggal 30 Agustus 2001 mengenai ijin penyelenggaraan Program Studi Sistem Informasi jenjang Program Sarjana di ITS).

Selanjutnya, pendirian FTIF-ITS secara resmi telah diakui oleh pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 109/O/2002, tanggal 12 Juli 2002 tentang Pendirian Fakultas Teknologi Informasi pada Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Pengembangan fakultas baru di ITS ini –yang meliputi pembangunan gedung fisik baru beserta fasilitas laboratoriumnya– diupayakan untuk memperoleh bantuan dana dari pemerintah Jepang melalui JICA (Japan International Cooperation Agency).

its1

Permalink Leave a Comment

fOto” suraBaya,,

November 9, 2008 at 1:57 pm (vIsit mY hEroic ciTy)

masjid-agung-2

Permalink Leave a Comment

tMpat wisaTa ,,

November 9, 2008 at 1:36 pm (vIsit mY hEroic ciTy)

tMan bUngkuL ,,

images1234

Gelembung-gelembung itu terbang meninggi dan meliuk ditiup angin. Beberapa gelembung melintasi segerombolan orang. Sebuah gelembung sanggup bertahan cukup lama, hingga menabrak lampu taman, tidak jauh dari seorang anak kecil yang berusaha melontarkan mainan “putar-putaran”nya. Setelah berusaha beberapa kali, akhirnya anak kecil itu berhasil melontarkan mainan yang terbuat dari bambu dan kertas mika itu. Wussh…Mainan itu terlontar ke atas dan turun ke bumi sambil berputar-putar, sesuai namanya.

Hampir setiap sore kita sekarang bisa menikmati pemandangan menyenangkan tersebut di Taman Bungkul, Surabaya. Sejak dibuka untuk umum pada 21 Maret 2007 lalu, Taman Bungkul selalu ramai didatangi warga Surabaya. Sejak direnovasi, Taman Bungkul memang terlihat lebih hidup. Di taman itu, warga Surabaya bisa melakukan banyak hal, tidak sekedar jalan-jalan. Bagi yang sekedar jalan-jalan menghabiskan sore hari, jalan di Taman Bungkul sudah sangat memadai. Bagi yang gemar “Extreme Sports”, di Taman Bungkul tersedia arena permainan Skateboard dan BMX. Bagi yang sudah berkeluarga, anak-anak dijamin akan senang sekali bermain di Taman Bungkul.

Keramaian semacam itu berbeda dengan keramaian sebelum Taman Bungkul direnovasi. Taman Bungkul terkenal sebagai tempat rapat umum partai politik (terutama pada saat pemilihan umum), tempat demonstrasi, dan tempat peziarahan.

Tempat peziarahan? Ya. Banyak peziarah, baik dari Kota Surabaya maupun daerah lain seperti Kediri, Banyuwangi, Gresik, dan Lamongan, yang berkunjung secara berombongan (Kompas, 24/4/1999). Karena di Taman Bungkul terletak makam Mbah Bungkul yang merupakan Boleh jadi Mbah Bungkul dapat dikategorikan sebagai wali lokal, suatu konsep sejarawan UGM Sartono Kartodirdjo untuk menyebut tokoh Islamisasi tingkat lokal. Keberadaan dia sejajar dengan Syeh Abdul Muhyi (Tasikmalaya), Sunan Geseng (Magelang), Sunan Tembayat (Klaten), Ki Ageng Gribig (Klaten), Sunan Panggung (Tegal), Sunan Prapen (Gresik), dan wali lokal yang lain (Kompas Jawa Timur, 6/8/2007).

Renovasi Taman Bungkul paling tidak bisa sedikit memenuhi kebutuhan spasialitas warga Surabaya. Terlebih setelah sekian lama dihimpit pembangunan mal-mal baru. Pembangunan mal-mal itu memang menyediakan ruang, tapi sama sekali bukan ruang ekspresi atau pemenuhan kebutuhan spasialitas warga Surabaya. Di selasar-selasar dan hall mal, warga Surabaya dipaksa untuk berjalan, membeli, atau pulang dalam perasaan sumpek karena tidak mampu membeli berbagai macam barang yang dipajang di mal.

Sekarang yang perlu diperhatikan oleh Pemerintah Kota Surabaya adalah konsistensi dalam perawatan. Selain itu pembangunan atau peremajaan taman di wilayah lain kota Surabaya. Taman Bungkul tentunya tidak akan mampu menampung kebutuhan spasialitas warga Surabaya. Akan lebih baik jika ada pembangunan atau peremajaan serupa di wilayah Surabaya Utara, Selatan, Barat, dan Timur. Sebentar. Bukankah di Surabaya Barat sudah ada banyak sekali taman? Lihatlah di perumahan-perumahan mewah yang menjamur di wilayah Surabaya Barat.

Ternyata bukan taman mewah dengan penataan yang indah dan dibangun dengan dana besar yang ingin dinikmati warga Surabaya, tapi cukup ruang terbuka yang aman dan sehat serta dihiasi dengan pohon-pohon rindang. Mungkin itulah pelajaran yang kita dapat dari renovasi Taman Bungkul.

Taman Bungkul Surabaya yang kini dalam tahap renovasi dan menelan biaya sekitar Rp 1,2 miliar, diharapkan dalam pertengahan bulan ini siap diresmikan, menyusul hampir selesainya pembangunan berbagai fasilitas pendukung yang ada.”Setelah ditinjau, renovasi tampaknya sudah akan selesai. Karena itu, pekan depan diharapkan sudah siap untuk diresmikan,” kata Communication Manager Telkom Divre V Jatim, Djadi Soegiarto, di Surabaya, Sabtu.Proses renovasi Taman Bungkul sebelumnya telah ditinjau oleh Wali Kota Surabaya Bambang DH dan Executive General Manager (EGM) Telkom Divre V Jatim, Nanang Ismail Kosim.

Taman Bungkul Surabaya yang sebelumnya terkesan tidak terawat, setelah renovasi kini terlihat lebih tertata dan cantik. Renovasi Taman Bungkul itu dibiayai Telkom sebagai bentuk kepedulian operator telekomunikasi tersebut terhadap fasilitas warga kota.Djadi berharap, setelah renovasi dan diresmikan Taman Bungkul dapat dimanfaatkan masyarakat Surabaya seoptimal mungkin. Apalagi, Surabaya yang merupakan kota metropolitan, kini sepertinya kekurangan ruang bermain untuk warganya.

Taman Bungkul berada di jalan protokol Kota Pahlawan Surabaya yakni Jalan Raya Darmo. Taman tersebut berada di areal seluas 900 meter persegi.Setelah direnovasi, taman itu dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti amphitheater berdiameter 33 meter, jogging track, arena bermain anak-anak dan skate board play ground.Selain itu, taman yang terdapat makam Mbah Bungkul tersebut, difasilitasi pula dengan akses internet nirkabel (Wi-Fi atau hotspot).

kEnjeRan paRk,,

kenjeran-beach1
Berada dibagian timur Surabaya, dengan udara pantai yang semakin Anda rasakan begitu Anda berada di kawasan Mulyosari maupun Sutorejo. Pantai Ria Kenjeran ini merupakan pantainya arek-arek Suroboyo dengan beberapa fasilitas yang beraneka ragam mulai dari olah raga hingga cinderamata khas Surabaya.

Apabila Anda ingin menikmati udara pantai dengan berjalan kaki atau berkuda di taman yang telah disediakan oleh Pantai Ria Kenjeran.

Dan juga bermain layang-layang dengan bebas disini karena angin pantai yang mendukung untuk permainan ini. Sehingga akan sangat menyenangkan membawa keluarga untuk berlibur di Pantai Ria Kenjeran ini.
Pantai Ria Kenjeran juga sering mengadakan acara-acara pada hari-hari tertentu (sabtu/minggu) yang sangat menarik sehingga sayang sekali jika terlewatkan begitu saja. Diantaranya adalah drag race di park-sirkuit, pacuan kuda, pertunjukan barongsay di saat bulan purnama, permainan layang-layang dan sebagainya.

Terdapat juga stand penjualan makanan khas Surabaya (sate kerang, kupang lontong, lontong balap, rujak cingur, ikan bakar, es dawet, dan sebagainya) ataupun souvenir yang kebanyakan berbahan dasar dari laut.

Dan bagi yang dari luar Surabaya ataupun yang ingin bermalam, pantai Ria Kenjeran menyediakan penginapan yang mengarah ke pantai agar pengunjung dapat menikmati indahnya matahari terbit dan terbenam.
Pantai Ria Kenjeran dibuka setiap hari selama 24 jam. Pihak pengelola Pantai Ria Kenjeran terkadang memberikan potongan harga tiket pada hari-hari biasa.

Permalink Leave a Comment

sEjaraH kOta sUrabaYa ,,

November 9, 2008 at 1:13 pm (vIsit mY hEroic ciTy)

surabaya-di-malam-hari

Warga Surabaya kini cukup beruntung dapat melihat secuil wajah masa lalu kota mereka. Beberapa lembaga (yang kebanyakan swasta) dengan telaten mengumpulkan foto-foto Surabaya “Tempo Doeloe”. Bahkan ada seorang penulis yang tidak hanya mengumpulkan foto, tapi juga berbagai kisah mengenai masa lalu Surabaya.

Tapi di sisi lain, pembangunan kota Surabaya seolah berjalan di jalur yang berlawanan dengan kemunculan ketertarikan untuk memahami sejarah Surabaya. Semakin banyak kita temui bangunan-bangunan lama dirobohkan dan digantikan dengan bangunan baru. Polemik mengenai penghancuran Stasiun Semut kini seolah terlupakan begitu saja. Jalan Raya Darmo yang sebenarnya merupakan museum raksasa masa lalu Surabaya secara perlahan kini menjadi ruang pajang koleksi Ruko (Rumah Toko), Bank, dan kantor. Secara perlahan rumah-rumah lama digantikan oleh bangunan baru yang menghapus referensi terhadap masa lalu Surabaya.
Lalu banyak pihak mempersoalkan kesadaran sejarah Pemerintah Kota Surabaya. Yang mungkin akan dijawab ringan oleh Pemerintah Kota Surabaya dengan menunjukkan keberhasilan proyek revitalisasi kawasan Kembang Jepun (yang kini mendapat nama baru, “Kya-Kya”). Sekalipun pada siang harinya, kita tidak akan bisa jalan-jalan dengan nyaman di kawasan niaga itu.
Apakah kita baru berhenti pada sekedar romantisme masa lalu Surabaya (pada masa kolonialisme Belanda)? Ataukah pandangan sejarah kita yang salah? Paling tidak ada beberapa catatan mengenai sejarah dalam konteks pembahasan mengenai kota Surabaya.
Pertama, sejarah bukanlah kumpulan relik dari masa lalu atau kumpulan cerita yang unik. Sejarah adalah dialog yang terus menerus antara yang masa lalu dan masa kini. Hal itu juga berlaku bagi sejarah kota Surabaya. Usaha penulisan sejarah Surabaya dan pelestarian wajah kota Surabaya saat ini rasanya kurang melibatkan warga Surabaya. Warga Surabaya seolah hanya ditempatkan sebagai penikmat foto-foto Surabaya “Tempo Doeloe”. Sementara semakin banyak saja bangunan-bangunan lama yang dirobohkan dan warga Surabaya hanya bisa menyadari bahwa ada Mal atau Ruko (Rumah Toko) baru yang didirikan, tanpa mereka tahu bahwa ada bangunan lama yang dikorbankan untuk hal itu. Dengar-dengar korban berikutnya adalah Penjara Kalisosok. Dengan cara seperti itu, bisa-bisa sepuluh tahun mendatang hanya bangunan-bangunan lama yang kini digunakan pemerintah saja yang akan selamat.
Kedua, sejarah mestinya juga berfungsi sebagai sarana penguat rasa kepemilikan warga Surabaya atas kota dan sejarah panjang kota mereka. Dan sejarah kota tentu saja sangat tidak memadai jika hanya diwakili oleh foto. Memang benar bahwa foto bangunan bisa bercerita begitu banyak. Tapi untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai masa lalu Surabaya kita juga membutuhkan juga foto jalan, taman kota, rumah sakit, penjara, dan peta kota. Jalan Tunjungan dulunya merupakan jalan dengan ruang arkade yang sangat memadai. Sekarang cobalah berjalan-jalan menyusuri Jalan Tunjungan, mulai dari Siola hingga pertigaan depan Tunjungan Plaza. Masihkah kita merasakan semangat “Rek ayo rek…mlaku-mlaku nang Tunjungan” seperti yang dinyanyikan oleh Mus Mulyadi? Atau cobalah berjalan kaki menyusuri Jalan Pemuda, mulai dari Perempatan Mitra hingga Balai Kota. Adakah perasaan bahwa kita sedang berada di jantung kota Surabaya? Kalaupun ada perasaan semacam itu mungkin hanya karena kemacetan dan arus lalu lintas yang tidak mempedulikan para pejalan kaki. Di Surabaya (dan di kota-kota lain di Indonesia sepertinya), ruang arkade dan promenade mungkin sudah mati, dan dipindahkan ke Mal-mal besar. Di mal-mal besar itu warga Surabaya kini mengalami berbagai perjumpaan. Bukan perjumpaan dengan sesama warga Surabaya, tapi dengan Matahari dan Sogo, Mango dan Zara, J.CO dan Coffebean. Bisa jadi warga Surabaya tidak merasa kehilangan ruang arkade dan merasa nyaman-nyaman saja berjalan-jalan di dalam lorong-lorong Mal. Tapi warga Surabaya juga tidak boleh marah jika ada warga kota lain yang mengatakan bahwa Surabaya tidak memiliki kekhasan wilayah kota. Tanpa kita sadari Surabaya ternyata sudah kehilangan begitu banyak hal. Tidak hanya bangunan-bangunan lama dan bersejarah.
Suatu kali saya pernah melihat para penggemar sepeda tua yang mengenakan pakaian kolonial bersepeda beriring-iringan melalui Jalan Tunjungan. Sudah pasti mereka menjadi pusat perhatian para pengendara mobil dan motor. Awalnya saya kaget, tapi kemudian ada perasaan miris yang muncul. Ya, para pengendara itu seolah hendak merayakan masa lalu Surabaya. Tapi untuk apa dirayakan? Apakah karena Surabaya sudah berubah menjadi sebuah “metropolis” dan warga Surabaya sudah siap kehilangan sejarah panjang mereka dan menerima identitas baru kota Surabaya sebagai kota Ruko dan Mal? Semoga tidak sengeri itu jadinya kota kita kelak.
Tidak banyak kota di Indonesia yang mengalami perkembangan seperti Surabaya, mulai dari sebagai kota tradisional praindustrial hingga menjadi kota modern pada masa penjajahan Belanda.
Sejak kapan Surabaya jadi kota Metropolitan? Istilah “Metropolitan” itu muncul dan diterima begitu saja. Pemerintah kolonial Hindia Belanda dulu dengan sangat bangga menyebut Surabaya sebagai kota pelabuhan. Sebuah sebutan yang lebih pas dan tepat.
Warga Surabaya kini cukup beruntung dapat melihat secuil wajah masa lalu kota mereka. Beberapa lembaga (yang kebanyakan swasta) dengan telaten mengumpulkan foto-foto Surabaya “Tempo Doeloe”. Bahkan ada seorang penulis yang tidak hanya mengumpulkan foto, tapi juga berbagai kisah mengenai masa lalu Surabaya.

Permalink Leave a Comment

kuliner ,,

November 9, 2008 at 10:52 am (1)

enyak1

degan

Permalink Leave a Comment

KULINER ,,

November 9, 2008 at 9:40 am (Uncategorized)

LONTONG BALAP

Seperti rujak cingur, lontong balap pun termasuk hidangan yang banyak dicari orang. Bentuknya seperti sup. Di dalamnya terdapat beberapa potong lontong, lentho (perkedel dari singkong dan kacang tanah yang digoreng), tahu goreng kering, dan taoge. Lalu disiram dengan kuah. Kita bisa memakannya bersama sate kerang dan sambal cabe rawit.

Lontong balap ini juga mudah sekali ditemui. Hanya yang paling ramai dikunjungi adalah warung lontong balap milik Cak To di Jl. Raya Gubeng. Walau warungnya nonpermanen dan berada di pinggir jalan yang ramai, tapi tiap hari warung lontong balap Cak To ini mampu menghabiskan 4 kg taoge dan 15 kg beras untuk lontong. Tentu masih banyak lontong balap lainnya, baik yang mangkal maupun yang dijual secara berkeliling. Rata-rata harganya berkisar antara Rp. 2000 – Rp. 3000.

LONTONG KUPANG

Kalau menuju arah pelabuhan udara Juanda ke arah kota Sidoharjo, di sisi kanan jalan kita akan menemukan sejumlah kios yang khusus menyajikan lontong kupang saja. Karena Surabaya dekat dengan laut, tidak mengherankan kalau banyak sajian makanan laut. Salah satunya, ya, lontong kupang.

Kupang sendiri merupakan sejenis remis laut yang bentuknya kecil-kecil. Hanya seukuran 3-4 mili saja. Kupang kemudian ditumis bawang putih dan daun bawang. Biasanya dimakan dengan potongan lontong yang disiram kupang dan kuahnya. Untuk menghilangkan bau amisnya, biasanya dikucuri air perasan jeruk nipis. Bagi yang menyukai rasa pedas, kita bisa menyantapnya dengan menambahkan sambal cabai rawit.

SOTO

Surabaya juga terkenal dengan sotonya. Seperti makanan khas Surabaya lainnya, soto mudah sekali ditemui di pelosok kota. Salah satu yang terkenal di Surabaya adalah Soto Pak Sadi, letaknya di Jl. Ambengan. Di sini soto yang disajikan adalah soto ayam dengan soun, dan potongan telur ayam rebus.

Bersama soto, kita juga bisa memilih hidangan lain yang cocok, di antaranya sate yang dibuat dari potongan kulit ayam, jeroan, telur muda, atau brutu. Tentunya tidak lupa disertai taburan kerupuk udang yang sudah dihaluskan.

Bagaimana dengan soto sapi. Nah, soto seperti ini bisa kita cari di Gubeng, antara jl. Kusuma Bangsa dan Jl. Ketabang Kali. Seperti soto di Jl. Ambengan yang kemudian dikenal sebagai soto Ambengan, soto daging yang ini pun populer dengan nama soto Gubeng. Biasanya soto daging begini bisa disantap bersama lontong atau nasi.

Masih seputar soto daging, kalau kebetulan habis jalan-jalan dan memborong oleh-oleh di Pasar Genteng, Anda juga bisa mampir di Soto Cak Riban. Nah, soto yang ini berupa soto Madura. Tak sulit mencari kedainya. Dari jauh pun papan nama sudah terlihat jelas.

ES DEGAN

Es Degan termasuk minuman yang laris di Surabaya. Maklumlah udaranya cukup panas. Bisa Anda bayangkan, kan, berjalan-jalan di terik matahari lalu menyeruput segelas es degan yang segar,wah, haus kita langsung hilang.

Es degan tidak beda dengan es kelapa muda pada umumnya. Yang agak membedakan adalah air kelapanya yang segar. Kalau Anda beruntung mendapat kelapa yang muda, tentu rasanya manis sekali mengalahkan sirupnya.

Banyak sekali kedai es degan. Bahkan di restoran-restoran atau di kedai-kedai soto, es degan termasuk minuman yang selalu kita temukan. Tetapi Sedap Sekejap yang kebetulan beberapa kali sudah mengunjungi Surabaya selalu dibujuk untuk mencicipi es degan di Bursa Kupang yang letaknya di sisi kanan jalan menuju bandara Juanda. Rasanya memang segar karena air kelapanya betul-betul utuh digunakan.

ES SINOM

Minuman ini sebenarnya semacam jamu. Karena rasanya mirip dengan jamu kunyit asam. Bedanya es sinom bisa diminum siapa saja karena khasiatnya untuk mereda panas dalam. Sinom adalah daun pohon asam yang masih muda. Kemudian digiling bersama kunyit, buah asam dan gula jawa. Campuran tersebut lantas diperas. Enak kalau disajikan dalam keadaan dingin atau dengan es.

Es sinom bisa ditemukan dibeberapa tempat, terutama di pasar tradisional seperti Pasar Genteng. Biasanya campuran tadi ditaruh dalam botol-botol yang ditata di atas meja. Meski penggemarnya tidak sebanyak es degan, namun minuman ini pun bukan berarti kekurangan penggemar, lo. “Kalau sudah minum es sinom bukan cuma hausnya hilang, badan pun jadi segar,” kata seorang ibu yang mengaku membeli es sinom hampir setiap hari.

PECEL

Buat orang Surabaya, pecel yang paling nikmat adalah pecel semanggi. Dari namanya saja kita bisa menebak bahwa di dalamnya terdapat rebusan daun semanggi. Daun yang hidup di pinggir sungai ini direbus atau dikukus, dan disajikan bersama rebusan taoge.

Sausnya agak berbeda dengan saus pecel pada umumnya. Saus pecel semanggi bukan cuma terdiri dari kacang tanah plus bumbu-bumbunya, tetapi juga lumatan kacang singkong yang direbus. Hingga sausnya betul-betul kental. Dan sebagai bumbu penyedap, dibubuhi petis udang.

Rasanya? Jelas sedap, apalagi kalau piringnya beralas daun pisang atau mempergunakan pincuk. Biasanya orang menyantapnya bukan dengan sendok, tetapi dengan kerupuk puli yang dijadikan sendok. Kerupuk puli adalah kerupuk yang terbuat dari tepung singkong.

Pecel semanggi mudah sekali diperoleh pagi hari. Banyak ibu-ibu berkeling menjajakan pecel semanggi sejak pagi hari sampai sekitar pukul 1 siang. Tetapi kalau kebetulan kurang beruntung mendapatkannya, masih ada pecel semanggi yang berjualan sampai malam yakni di Supermarket Sinar, Jl. Bintoro dan Pujasera di Jl. Diponegoro.

Sedangkan pecel lain yang harus dicoba adalah Pecel Pasar Keputran. Jam bukanya dari pukul setengah sembilan malam sampai dini hari. Penggemarnya tidak terbatas usia, dan selalu antre! Yang disajikan adalah nasi pecel plus bakmi goreng, sedikit telur orak arik dan taburan bacem empal daging sapi. Wah, sedap!

JAJAN PASAR

Setiap sore menjelang malam, di sekitar Jl. Pandegiling selalu ada pasar kaget. Selain menjual pakaian dan sepatu, pasar tersebut diramaikan pula dengan berbagai sajian makanan khas Surabaya.

Di situ bisa kita temukan kue-kue yang diberi parutan kelapa atau dimakan bersama juruh (gula kelapa yang dicairkan) seperti klepon, lupis, putu, dan klepon. Khusus untuk klepon, penyajiannya agak berbeda. Klepon yang sudah direbus tadi tidak langsung digulingkan dalam parutan kelapa begitu direbus, tetapi ditumpuk di atas piring. Ketika ada yang membeli, beberapa potong ditaruh di atas daun baru ditaburi kelapa. Jadi, klepon dimakan dengan cara dicocolkan.

Selain kue-kue basah, ada juga kue kering. Misalnya, klanting, kue kering terbuat dari kanji yang digoreng. Anda juga bisa membeli kulpang. Yang ini terbuat dari tepung beras yang dibentuk seperti lontong. Disajikan setelah diiris setebal 1/2 cm.

Di antara penjual-penjual kue tadi, terselip juga pedagang gorengan. Jenis gorengannya tak beda dengan gorengan di kota-kota lain seperti pisang goreng, pisang molen, atau tahu goreng. Tetapi ukurannya ekstra besar. Hingga menyantap satu atau dua potong, perut kita sudah kenyang.

Salah satu jajanan pasar yang enak adalah lemet jagung. Isinya berupa adonan sagu dan pipilan jagung. Rasanya manis-manis gurih. Uniknya, kue tadi dibungkus dengan daun jagung yang disemat dengan lidi.

NASI BEBEK

Kalau warung pinggir jalan di Jakarta banyak menjual ayam goreng, lain di Surabaya. Kebanyakan warung-warung menjual nasi bebek. Isinya berupa bebek goreng dan lalapan. Jangan mundur dulu dengan daging bebek yang menurut orang rasanya alot dan baunya amis. Nasi bebek di Surabaya jauh dari itu. Ternyata rahasianya, sebelum digoreng, bebek dibacem bersama bumbu-bumbu. Rasanya gurih dan asin. Dagingnya pun benar-benar lembut seperti daging ayam.

Tentunya tidak semua warung nasi bebek menjanjikan rasa yang betul-betul enak. Di Surabaya ada dua warung nasi bebek yang disukai banyak orang. Yang pertama, di Pasar Pecindilan. Pemiliknya adalah Ibu Wagini. Buka dari pukul 5 sore, dan tutup pukul 7 malam. Bukan karena tidak laku, melainkan habis diborong pembeli.

Saat penyajian bebek goreng dibagi empat potong, terdiri dari bagian dada, paha, brutu (ekor), dan sayap. Cakar, jeroan dan kepala dijual tersendiri. Dalam semalam Wagini bisa menjual 110 ekor bebek.

Penggemar nasi bebek di Surabaya memang tidak tanggung-tanggung. Nasi bebek yang di Karang Empat, sehari menyediakan 350 ekor bebek. Itu pun kita harus datang sebelum pukul 7 malam. Setelah itu, potongan bebek terbaik sudah habis dibeli orang. Tidak sampai pukul 9 malam , warung yang terletak di pinggir jalan tersebut sudah tutup. Keduanya disajikan dengan nasi panas dan sambal terasi plus lalapan.

Permalink Leave a Comment